Mengolah Curriculum Vitae, Bukan Merombaknya

Cara Menyusun Curriculum Vitae

Curriculum vitae (CV) sebagai dokumen yang memberikan risalah pengalaman dan kualifikasi seseorang memiliki nilai yang sangat penting dalam proses "recruitment" personil yang diperlukan bagi suatu pekerjaan/kegiatan. Khusus dalam proses lelang/pengadaan suatu proyek, kualifikasi personil (tenaga ahli) semakin memiliki bobot penilaian yang semakin diprioritaskan dalam proses evaluasi suatu dokumen penawaran/tender. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi kualifikasi yang dimiliki personil/tenaga ahli yang diusulkan adalah curriculum vitae.

Sebagai upaya memudahkan proses evaluasi CV tersebut, maka panitia lelang telah menyediakan format baku yang harus dipenuhi oleh para peserta lelang. Adanya kualifikasi dan format baku yang telah ditentukan dalam proses lelang tersebut, menuntut konsultan (individu/perusahaan) untuk menyajikan CV dari kandidat personil/tenaga ahli yang diusulkan agar lebih informatif dan memudahkan panitia lelang dalam melakukan proses evaluasi.

Sebagai tambahan informasi, pihak konsultan (khususnya perusahaan) dalam proses penyiapan dokumen penawaran terkait komposisi tim tenaga ahli (personil) yang diusulkan diharuskan melampirkan CV dan kelengkapannya (ijasah, sertifikat, referensi kerja, dll) sesuai dengan format yang telah ditentukan. Dalam menyajikan CV-CV tersebut tingkat kesulitan akan sangat tergantung dari format CV asli yang dikirimkan oleh kandidat tenaga ahli kepada pihak perusahaan konsultan.

CV asli tersebut dapat dikatakan sebagai bahan dasar dalam proses penyajian CV sesuai kualifikasi dan format yang ditentukan. Jika bahan dasar yang tersedia relatif bagus, maka untuk penyusunan dan penyajian CV relatif lebih mudah. Sebaliknya jika bahan dasar yang tersedia sangat minimalis, maka akan lebih susah dalam proses penyajian dan penyusunannya.

Meskipun bahan dasar CV yang tersedia relatif minimalis sebenarnya dan sebaiknya jika kita mengolah CV tersebut menjadi lebih informatif sehingga kualifikasi kunci sesuai dengan persyaratan yang diminta sekaligus menyajikannya sesuai dengan yang telah ditentukan tanpa mengubah substansi dari CV tersebut. Hal yang perlu dihindari dalam penyusunan CV dengan bahan dasar minimalis adalah merombak substansi CV kandidat tenaga ahli sehingga secara kualifikasi "dipaksakan" agar sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Bahkan dalam kondisi ekstrim, merombak CV bisa dilakukan dengan cara mengganti pengalaman kerjanya dengan pengalaman kerja dari orang lain yang lebih memenuhi persyaratan.

Kegiatan merombak CV ini bisa menjadi permasalahan yang serius bagi konsultan maupun kandidat tenaga ahli yang bersangkutan, apalagi jika konsultan tersebut telah ditetapkan sebagai pemenang. Resiko yang terberat adalah terkena sanksi berupa dimasukkan dalam daftar hitam (blacklist) oleh panitia lelang atau pihak donor proyek tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa cara yang relatif aman dalam penyusunan dan penyajian CV para kandidat tenaga ahli yang diusulkan adalah dengan cara mengolahnya, sedangkan merombak CV adalah kegiatan yang relatif mudah dan cepat tapi lebih berbahaya. Mengolah CV membutuhkan seni tersendiri dan butuh ketekunan, sedangkan merombak CV adalah jalan pintas yang cepat tapi menyesatkan.

Salam Cetta....

Artikel-Artikel Terkait Lainnya

  1. Bisakah Seorang Tenaga Ahli Diklaim sebagai Milik suatu Perusahaan?
  2. Unsur Penilaian Kualifikasi Tenaga Ahli
  3. Mengunggah Curriculum Vitae ke Dunia Maya
  4. Jangan Abaikan Referensi Kerja
  5. Sekilas tentang Curriculum Vitae
  6. Artikel-Artikel Cetta Lainnya

PrintEmail